Sabtu, 20 April 2013

DEPOK KOTA BELIMBING ?


Buah belimbing adalah simbol dari kota depok entah siapa pencetusnya tapi yang gue tau emang gitu. Sekarang ada berapa sih perkebunan yang menanam belimbing diDepok bisa dihitung dengan jari kok. Pasti masih ada opsi lain sebagai simbol kota Depok yang tercinta ini seperti tanggulan, angkot yang serabutan, pedagang kaki lima, mau pun senjata tajam yang sering digunakan pelajar saat tawuran.

Berapa banyak tanggulan (polisi tidur) diDepok? Bukannya lebih banyak dibandingkan belimbing? Lihat Margonda, jalan utama diDepok aja udah ditanemin tanggulan apa lagi yang dipedalamannya kan, suatu saat juga tanggulan bisa memakan korban contohnya bila ada pendatang dari luar Depok yang ga tau kalo diMargonda ada tanggulan segede gaban trus dia ngebut terus kena tanggulan, apa dia bisa ngendaliin kendaraannya tuh? Siap yang tanggung jawab? Ga ada, yaudah belum kejadian ini jd ga apa apa. Bisa dipastikan ada ribuan tanggulan dikota ini, dan nilainya jelas mengalahkan perkebunan belimbing yang ada diDepok bukan? Jadi kenapa kota ini ga bersimbolkan tanggulan aja? Lebih terdengar lucu.

Permasalahan angkutan umum juga mewarnai kota Depok yang semakin padat ini, ga ada salahnya kalo angkot juga bisa dijadikan sebagai simbol kota ini. Kemana pun anda dipelosok Depok pasti menemukan angkot terkadang satu jalur bisa dilewati beberapa angkot dengan trayek berbeda. Masalah ini memicu kemacetan yang sulit ditangani, memang lebih baik banyak angkutan umum dibanding kendaraan pribadi akan tetapi supir angkot sering berulah yang mengakibatkan kakacauan seperti mangkal disembarang tempat atau pun sekedar berhenti mendadak untuk menaik turunkan penumpang, kan bahaya. Bisa juga kan sebagai pengganti simbol belimbing? Bisa sih, tapi yang ada supir supir angkot merasa makin berkuasa karna merajai kota ini. Kita batalin aja kalo gitu angkot sebagai nominasinya.

Depok juga bakal sepi banget seandainya kalo ga ada pedagang kaki lima, trotoar bisa kosong dan jalan raya juga bisa lebih lebar. Coba dicek trotoar mana yang ga ditempatin sama pedagang? Ini salah satu kreatifitas pedagang yang gga perlu ruko tapi bisa tetap berjualan, semakin indah tentunya dengan pemandangan pedagan yang menjajakan dagangannya dipinggir jalan, stasiun, dalam terminal, bahkan ada yang diatas jembatan penyebrangan (kenapa ga ada yang didalem tanah ya?). Berani ga ya kalo pak wlai kota mengganti simbol belimbing jadi gambar sate, pecel lele, kaset bajakan, atau gambar warung kopi dan warteg sekalian? Gue bakan salto dari Margonda sampe rumah barengan ama Agnes Monica kalo beneran diganti nih.

Senjata tajam juga bisa kalo buat pengganti simbol, liat aja kalo ada yang tauran antar sekolah diDepok senjata mereka beragam dari mulai gesper berkepala gir, pedang smurai, dan parang atau celurit. Mana ada sih anak sekolah taurannya timpuk timpukan pake belimbing, yang ada pas dia pulang tauran bakal digebukin ama orangtuanya karna seragam dekil semua. Lagian kan kalo simbolnya pake senjata bisa terlihat gagah mencerminkan para pemudahya yang pemberani akan tetapi madesuuuu..

Masih banyak lagi pilihan untuk mengganti simbol kota Depok yang untuk saat ini sudah hampir punah karena penyusutan tanah yang menyebabkan petani belimbing berpindah profesi sebagai supir angkot maupun pedagang kaki lima.
Intinya apa bila kita ingin mempertahankan simbol kota ini bukankah lebih baik untuk kita melestarikannya dengan memperluas perkebunan dan mengurangi pembangunan untuk ketersedianna lahan.

Ingatlah anak cucu kita akan lahir untuk generasi penerus, lestarikan lah alam ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar